Festival Sastra Bengkulu, Sebuah Kerja Kebudayaan

Pembukaan FSB 2018
Pembukaan FSB 2018

Seharusnya tulisan ini dipublikasikan tahun lalu, setelah saya dan kawan-kawan menggelar Festival Sastra Bengkulu (FSB) pertama. Namun, banyak pihak saat itu berpendapat, “Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu”. Tapi, saya pikir pada akhirnya saya perlu menyampaikan ini ketika ada orang-orang yang menuding bahwa festival itu cuma proyek untuk mencari duit.

Saya tertawa ketika membaca komentar semacam itu karena yang berkomentar pastilah tak tahu bahwa tak ada festival sastra yang menguntungkan. Yang ada adalah kerja sosial. Festival sastra adalah kerja kebudayaan dan panitia biasanya nombok. Kalau mau untung, bikin konser musik kpop dan pasang harga tiket yang tinggi. Ada juga sih festival sastra semacam konser ini, tapi saya tak perlulah mengomentarinya di sini.

Faktanya, lebih banyak panitia festival sastra yang nombok. Seorang teman saya, panitia di Borobudur Writer Festival, merelakan gajinya untuk menomboki acara berskala internasional itu. Sebuah perhelatan sastra di Jawa, yang tak perlu saya sebut namanya, yang sudah bertahun-tahun berjalan, rencananya akan pindah kota karena tak didanai pemerintah daerah. Ini tentu sangat disayangkan.

FSB pertama mengalami hal serupa: tekor. Saya meminta panitia mempublikasikan saja laporan keuangan yang berisi dana yang masuk dan keluar agar siapa saja bisa melihat bahwa dana yang masuk tidaklah seberapa dan pengeluarannya lebih besar. Akibatnya, panitia harus merogoh kocek dan berutang sana sini untuk menutupinya. Itu laporan keuangan yang telah resmi disampaikan ke pemerintah daerah Bengkulu dan sponsor. Tak ada yang ditutupi dan publik bisa melihat bahwa panitia memang tekor. Panitia inti sama sekali tak mendapat apa-apa. Bahkan untuk secangkir kopi dalam rapat kepanitiaan pun kami membeli sendiri atau saweran.

Mengapa saya mau terlibat dalam FSB? Saya lahir dan dibesarkan di Bengkulu. Puisi-puisi saya pertama kali terbit di koran Semarak Bengkulu. Saya menulis cerpen pertama yang dimuat di media Jakarta juga dari kota itu. Di kota itu pula saya dan beberapa penggemar sastra ikut lomba baca puisi dan semacamnya. Kota itu telah menempa bakat menulis saya. Itu kenangan indah yang tak bisa saya lupakan.

Tapi saya orang Bengkulu dan merantau adalah tantangan yang tak boleh ditolak. Saya ke Jogja, lalu Jakarta. Di dua kota itu saya tetap aktif bersastra: menulis dan menerbitkan buku puisi bersama, baca puisi dengan riang gembira, atau bahkan mendirikan Yayasan Multimedia Sastra yang sempat meramaikan jagat sastra.

Tapi, ada yang belum saya lakukan: untuk kota kelahiran saya. “Apa yang telah kau sumbangkan untuk Bengkulu, Wan? Ayo pulang!”. Ajakan itu berkali-kali datang dari beberapa kawan asal Bengkulu dan yang masih mukim di sana. Yang lebih heboh adalah tawaran seorang fungsionaris partai: “Wan, kau berminat jadi anggota Dewan di sana?”. Alamak.

Baiklah, akhirnya saya memutuskan untuk mendukung Festival Sastra Bengkulu. Satu-satunya tujuannya adalah menyumbangkan apa yang saya bisa bagi kota itu. Saya bukan politikus, jadi tak perlulah menjadi anggota Dewan atau kepala daerah. Hehehe. Cukup bersastra saja.

Saya tahu bahwa festival sastra akan menguras kantong. Kalau ada kawan-kawan yang menggelar festival sastra dan bisa impas saja, saya akan angkat topi.

Tapi, FSB pertama unik. Acara ini punya dua kepanitiaan, yakni panitia pendamping bentukan pemerintah daerah dan panitia FSB bentukan kami. Panitia bentukan Pemda ini mengelola sendiri anggarannya, sepeser pun kami tidak memegangnya. Tentu itu lebih baik karena kami terbebas dari administrasi yang rumit dan pelaporan yang pasti rumit juga. Pemda mendukung dengan membiayai sebagian kegiatan, seperti malam pembukaan, memfasilitasi transport dalam kota dengan menyediakan bus, hingga menyediakan gedung dan perlengkapannya. Sisanya ditangani oleh panitia bentukan kami.

Saya dan teman-teman akhirnya memutuskan: Ah, sudahlah. Biarlah mereka mempertanggungjawabkan sendiri kegiatannya dan kami mempertanggungjawabkan sendiri kerja kami. Maka, kami hanya mempertanggungjawabkan dana yang hanya kami terima dari sponsor kepada pihak sponsor dan pemda. Akibatnya, itu tadi, kami harus menambal berbagai pengeluaran yang tak bisa ditutupi karena kami tak mendapat sepeser pun dana yang diperoleh panitia bentukan pemda, meskipun kamilah yang telah berusaha mendapatkan dana itu dengan  sejumlah pihak dan menyusun proposal kegiatannya.

Sebetulnya kami tak perlu mengumumkan laporan kegiatan kami karena toh dana yang kami peroleh sepenuhnya dari pihak swasta. Kewajiban kami adalah mempertanggungjawabkannya ke sponsor. Itu sudah kami lakukan dan alhamdulillah laporan itu mereka terima dengan baik.

Soal penggunaan dana Pemda dan BUMD, silahkan bertanya pihak yang memakainya. Itu kan dana publik, bisa saja diminta untuk dibuka. Jangan tanya kami karena kami tak tahu menahu soal itu dan tidak pula menyentuhnya sepeser pun. 

Celakanya, kami menghadapi tarik-menarik di kalangan panitia  yang kami bentuk demi melibatkan banyak seniman Bengkulu.  Mereka seperti ingin melepas diri dari kami. Mereka membuat rapat sendiri tanpa mengundang ketua umum panitia (Willy Ana) dan panitia pengarah (SC), padahal kami berada di Bengkulu.

Bahkan mereka dengan jelas menyatakan tidak berada di bawah koordinasi kami. Astaga. Organisasi macam apa ini?

Celakanya, bantuan sponsor dari sebuah BUMD Bengkulu senilai Rp 25 juta sepenuhnya mereka pegang dan kelola, sepeser pun tidak dilaporkan kepada Ketua Umum Panitia dan Panitia Pengarah. Padahal kami masih kelimpungan membiayai sejumlah kegiatan, termasuk transport dan honor pembicara. Sebagaimana telah disampaikan di grup panitia bersama, kami hanya mendapat satu sponsor dari satu pihak swasta senilai Rp 20 juta (belum dipotong pajak). Dengan uang segitu kami harus membiayai A-Z, mulai dari transport kami bolak-balik rapat di Bengkulu, tiket panitia, tiket narasumber, honor narasumber, cetak buku, dan sebagainya. Pakai logika jongkok pun pasti gak cukup. Lalu dari mana tambahannya?

Willy Ana, saya dan Mustafa Ismail akhirnya saweran, plus utang sana sini, termasuk dari keluarga. Sampai sekarang kami masih belum melunasi sekian banyak utang itu.

Apa boleh buat. Ada sesuatu yang harus dikorbankan untuk idealisme semacam festival sastra.

Kami sebenarnya malu untuk menyampaikan ini. Kami malu pada pihak sponsor, pendukung, dan para sastrawan. Ini skandal yang memalukan dalam sejarah sastra. 

Ini sebetulnya aib yang cukuplah kami dan sedikit orang yang menanggungnya. Tapi, tudingan dari berbagai pihak bahwa kami menilap dana aponsor dan cari muka lewat FSB tidak bisa dibiarkan. Kalian telah melempar dan menyebarkan fitnah. Hal itu harus dijawab sehingga kami terpaksa membuka segala kebobrokan ini. 

Tapi, alhamdulillah, pengorbanan itu tidaklah sia-sia. FSB pertama berlangsung sukses. Saya berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Bengkulu, Gubernur Bengkulu, dan Bupati Kepahiang yang telah mendukung acara tersebut.

Saya juga berterima kasih kepada sejumlah seniman Bengkulu yang telah bekerja keras agar acara itu berjalan lancar. Saya berterima kasih kepada para sastrawan dan seniman yang datang dan meramaikan festival tersebut.

Setelah acara berlangsung, banyak penyair yang menulis puisi dan artikel tentang Bengkulu dan Kepahiang. Percakapan tetang dua kota itu  ramai di berbagai grup sastra. Sejumlah pihak juga menyampaikan ucapan selamat atas kesuksesan acara ini. Ini sebuah kabar yang menyenangkan. Bengkulu akhirnya makin dikenal oleh para sastrawan Nusantara. Ini dampak positif yang diharapkan. Hal ini sedikit banyak telah mengobati kekecewaan kami atas masalah yang terjadi di festival.

Ketika beberapa bulan lalu Willy Ana dan Mustafa Ismail mengingatkan saya untuk FSB kedua, saya sebetulnya sangatlah pesimistis, mengingat kasus FSB pertama. Saya tak ingin kawan-kawan panitia tekor lagi. Saya selalu berharap agar kegiatan seperti ini setidaknya impas dan panitia mendapat honor yang memadai atas kerja keras mereka. Itu adil bagi mereka. Kalaupun dananya bersisa, itu bisa dipakai untuk kegiatan tahun berikutnya sehingga acara ini berkesinambungan. Sayang, kan, kalau acara sebaik ini hilang begitu saja, seperti nasib beberapa festival lain, yang bahkan digelar oleh pemda setempat.

Tapi, dorongan mereka akhirnya meluluhkan saya. Baiklah, kita coba gelar lagi. Mungkin tak perlu besar bila dana tak tersedia.

Nyatanya, dananya cekak. Hahahaha. Ya, iyalah. Di tengah ekonomi yang sedang lesu begini, mana ada lembaga yang mau menggelontorkan dana untuk acara sastra. FSB tahun ini juga berbeda dari tahun lalu karena lebih berfokus pada diskusi dan pelatihan penulisan karena dana yang kami dapat memang untuk itu, tak bisa diubah ke acara lain. Setelah melihat dana yang sekadarnya itu, tak mungkin pula kami merekrut banyak orang sebagai panitia.

Ini berbeda dari FSB tahun lalu yang dapat merekrut banyak orang karena kepanitiaannya dibentuk oleh pemda. Sebagai catatan, perekrutan panitia pada FSB tahun lalu sepenuhnya dilakukan pemda dan rekan-rekan Bengkulu. Kami sama sekali tak terlibat. 

Tapi kami senang bahwa tahun ini FSB berfokus pada pelatihan para penulis pemula. Ada 30 penulis muda yang terjaring. Karya-karyanya menunjukkan bahwa mereka punya potensi untuk menjadi penulis suatu saat nanti. Bakat ini tak boleh disia-siakan. Kami hanya ingin mendorong mereka untuk menyadari bahwa bakat itu dapat diasah dan insya allah suatu saat nanti lahir seorang penulis besar di antara mereka.

Tapi, yang mengecewakan adalah keputusan pemerintah daerah Bengkulu yang tidak mendukung acara tahun ini. Padahal, kami dulu sudah menyampaikan bahwa festival sastra ini nanti harus menjadi milik Bengkulu, diselenggarakan oleh pemerintah Bengkulu, dan jadi acara tahunan yang mengangkat nama Bengkulu. Penyelenggaraan festival oleh pemda akan membuat acara tersebut sustain karena pemda punya birokrasi yang stabil dan anggaran yang pasti

Di berbagai negara di Eropa, misalnya, festival seni, termasuk sastra, bukan lagi digelar di level nasional tapi juga di kota-kota kecil oleh pemerintah setempat. Kota-kota itu berlomba-lomba membuat suatu festival seni untuk meramaikan kotanya sehingga kota itu jadi hidup dan terkenal di seluruh dunia.

Misalnya, Giffoni Film Festival digelar di Giffoni, sebuah kota kecil di Italia, setiap tahun dan dihadiri 2000 anak-anak dari seluruh dunia sejak 1971. Itu salah satu festival film anak-anak internasional paling terkenal di dunia. Saya pernah menghadirinya dan tercengang melihat betapa satu kota kecil yang sekitarnya penuh pertanian anggur menjadi begitu hidup selama sepekan festival berlangsung. Para peserta berkeliaran di mana-mana, memenuhi hotel, restoran, dan jalanan. Aula sekolah dan kantor pemda disulap jadi bioskop. Siapa saja boleh menonton apa saja di mana saja. Ada juga ruang-ruang kecil tempat peserta berdebat tentang film dan kebudayaan. Ini belum termasuk acara hiburan musik di alun-alun dan sebagainya. Itu berlangsung setiap hari dalam sepekan. Saya berangan-angan: kapan ya Bengkulu akan punya keramaian seperti ini?

Tapi, festival sastra yang bikin tekor tidaklah sehat. Saya mengangankan bahwa suatu saat ada festival sastra yang cukup bonafid sehingga bisa menjamu para sastrawan dengan layak. Kapan itu? Saya tidak tahu. Sama halnya saya tidak tahu apakah FSB bisa digelar tahun depan ketika sekarang pun keringat kawan-kawan panitia yang bercucuran ini malah dituding macam-macam.

Iwan Kurniawan

Kurator FSB dan penulis buku Semiologi Roland Barthes (2001) dan Isu-isu Internasional Dewasa Ini: Dari Perang, Hak Asasi Manusia, Hingga Pemanasan Global (2008). Mantan Pemimpin Redaksi Cybersastra dan turut mendirikan Yayasan Mutimedia Sastra. Karya sastranya tersebar di berbagai media dan antologi.

Related posts

Leave a Comment