Publikasi 

Berita Festival Sastra Bengkulu di Kompas

Ketika salah seorang penggerak inti Festival Sastra Bengkulu (FSB) – Bengkulu Writers Festival (BWf) memposting link berita kegiatan itu di kompas.id, sejumlah anggota panitia langsung menyambut dengan membuka link itu. Tapi rupanya, berita berjudul “Festival Sastra Bengkulu Ajang Kreasi Perkuat Tradisi” di Kompas.id itu masuk kategori berbayar. Linknya dapat disimak di…

https://kompas.id/baca/utama/2019/07/15/festival-sastra-bengkulu-ajang-kreasi-perkuat-tradisi/

Dan pagi ini, petikan berita itu dimuat di Kompas edisi cetak (Harian Kompas). Kami mengucapkan terima kasih kepada Kompas, serta wartawan dan editor yang menulis dan memuat berita ini. Kami terharu makin banyak dukungan dari berbagai pihak — dengan caranya masing-masing — untuk kegiatan ini. Semoga semua terlaksana dengan baik.

* * *

Tema yang dikedepankan pada FSB-BWF 2019 yakni “Sastra, Anak Muda, dan Tradisi”. Tema tersebut dipilih untuk memberi ruang tak terbatas kepada anak muda untuk menulis dan mengapresiasi sastra sekaligus mengandung makna agar generasi milenial tidak melupakan tradisi dan budayanya.

Festival Sastra Bengkulu Ajang Kreasi Perkuat Tradisi

OLEH: FAJAR RAMADHAN 15 Juli 2019 · 17:59 WIB

JAKARTA – Festival Sastra Bengkulu atau FSB digelar untuk kali kedua pada 13 – 15 September 2019 di Bengkulu. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya yang fokus menghadirkan penyair, tahun ini, peserta yang akan hadir merupakan kalangan penulis sastra seperti penyair, cerpenis, novelis dan esais, termasuk para penulis milenial

Pengumuman pendaftaran festival yang diberi tajuk Bengkulu Writers Festival (BWF) tersebut bisa disimak pada situs www.sastrabengkulu.xyz. “Pendaftaran peserta sudah kami buka sejak awal Juli dan sudah puluhan orang mengirim karya,” kata Ketua FSB-BWF Willy Ana dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (14/7/2019).

Tema yang dikedepankan pada FSB-BWF 2019 yakni “Sastra, Anak Muda, dan Tradisi”. Tema tersebut dipilih untuk memberi ruang tak terbatas kepada anak muda untuk menulis dan mengapresiasi sastra sekaligus mengandung makna agar generasi milenial tidak melupakan tradisi dan budayanya.

“Karya sastra, anak muda, dan tradisi merupakan hal yang tidak terpisahkan,” ujar Iwan Kurniawan, kurator sekaligus panitia pengarah FSB-BWF.

Kegiatan tersebut akan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama untuk sastrawan serta penulis lingkup nasional dan internasional. Panitia akan mengundang mereka seusai melakukan proses kurasi terlebih dahulu.

Para penulis dan sastrawan diharuskan mengirim karya kepada panitia untuk diseleksi tim kurator, yang terdiri dari para sastrawan nasional, seperti Kurnia Effendi, Iyut Fitra dan Iwan Kurniawan. “Dari sana panitia akan memilih 50 penulis dengan karya terbaik untuk mengikuti festival,” ujar Ana, yang juga penulis sastra asal Kedurang, Bengkulu Selatan.

Kelompok kedua ditujukan bagi para pelajar dan mahasiswa Bengkulu yang berusia maksimal 25 tahun. Penjaringan para penulis milenial tersebut akan dilakukan oleh kurator nasional seperti Yosi Herfanda.

“Penulis muda, mahasiswa dan pelajar kami persilakan untuk mendaftar dengan membaca informasi di blog resmi FSB,” kata Ana.

Iyut Fitra, salah satu kurator, mengatakan, kurasi akan dilakukan secara ketat mengingat kuota peserta cukup terbatas. “Dengan kuota peserta yang terbatas, yakni 50 orang dari dalam dan luar negeri, maka proses kurasi akan berjalan ketat. Semoga 50 karya terpilih tersebut adalah karya-karya terbaik tahun ini,” ujarnya.

Dukungan pemda

Festival Sastra Bengkulu pertama pada 2018 dianggap sukses oleh berbagai pihak. Para sastrawan yang hadir ke Bengkulu pada FSB 2018 tidak hanya memberi apresiasi kepada panitia, tapi juga Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah beserta jajarannya. Pemerintah Provinsi Bengkulu dinilai telah memberikan dukungan maksimal dalam terselenggaranya kegiatan tersebut.

Peserta juga memberi apresiasi kepada Bupati Kepahiyang Hidayatullah Sahid, yang menjadi tuan rumah penutupan FSB 2018. “Kami berharap gubernur dan semua pihak di Bengkulu kembali memberi dukungan serta membantu kesuksesan FSB 2019,” kata Ana.

Sastrawan, Kurnia Effendi, mengibaratkan, Festival Sastra Bengkulu, sekali melangkah tak surut ke hulu. Menurut dia, literasi di tanah sejarah pendiri republik ini sudah selayaknya terus digali.

“Tahun ini kita hendak menggelorakan potensi penulis muda Bengkulu. Ayo ke Bengkulu,” kata Kurnia, yang belum lama ini mengikuti residensi sastrawan di Belanda.

Editor HAMZIRWAN HAM

Related posts

Leave a Comment