Sosok 

Kisah Haru Sang Ketua Festival Sastra Bengkulu

PENGANTAR:
Tulisan ini dikutip dari online terasnusa.com. Aslinya berjudul “Perempuan Puisi dari Kedurang”. Tak banyak yang tahu, bahwa tak mudah menyiapkan sebuaha acara besar seperti festival sastra. Tidak mudah untuk mencari sponsor, tak mudah pula untuk meyakinkan para sastrawan untuk datang. Tapi itu tidak membuat penggerak utama Festival Sastra Bengkulu (FSB) surut.

Perempuan Puisi dari Kedurang

Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi penggerak sebuah acara besar yang mendapat perhatian luas dari publik sastra dan sastrawan dari Indonesia dan Asia Tenggara, yakni Festival Sastra Bengkulu. Lahir di Kedurang, Bengkulu Selatan, pada 29 September 1981, sejatinya Willy Ana, nama perempuan itu, tak pernah bersentuhan dengan tulis-menulis sejak kecil. Tidak ada jejak penulis dalam keluarganya.

Setelah menamatkan kuliah diploma bidang administrasi dan komputer di kotanya, ia hijrah ke Jakarta. Itu pun ia tidak di dunia tulis menulis. Ia memang senang menulis puisi, tapi hanya sekedar menulis dan menyimpan di buku harian. Itu dilakukan sejak duduk di bangku sekolah menengah. Begitu pula tiba di Jakarta dan bekerja sebagai karyawan di beberapa tempat, ia tetap menulis.

Pada 1996, Willy atau Ana (sapaan ini dua-duanya akrab dengannya) tergerak mengumpulkan puisi-puisi itu menjadi sebuah buku. Lewat bantuan seorang penyair senior di Bengkulu, ia pun akhirnya berhasil menerbitkan buku pertamanya, “Aku Berhak Bahagia”. “Jika membaca lagi puisi itu saya jadi malu sendiri,” ujarnya suatu ketika.

Suatu hari, ia menemukan pengumuman Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia (HPI) di laman Facebook. Ia lalu mengontak salah seorang panitia yang nomornya tertera di poster digital pengumuman itu untuk menanyakan beberapa inforamsi yang baginya belum jelas benar. Setelah mendapat penjelasan, beberapa hari kemudian, ia pun mengirim buku puisi pertamanya itu kepada panitia. “Alhamdulillah, tidak menang, haha…”

Dari situlah ia kemudian berkenalan dengan sejumlah penulis sastra Tanah Air, mulai yang muda hingga yang senior. Tentu, saja sambil ia terus mengasah diri. Itu dibuktikan dengan puisinya berjudul “Petuah Kampung” yang kemudian menjadi puisi terbaik Litera 2018 (litera.co.id) dan ia mendapat Anugerah Sastra Litera, sebuah portal sastra yang dipimpin oleh sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda.

Akan halnya Festival Sastra Bengkulu (FSB) adalah hasil perbincangan dan diskusi dengan sejumlah kawan penulis sastra seperti Mustafa Ismail dan Iwan Kurniawan yang wartawan Tempo. Iwan, yang memang berasal dari Bengkulu, kemudian memperkenalkan Willy dengan sastrawan Bengkulu lainnya, Hudan Hidayat.

Mereka pun kemudian bertemu membicarakan tentang rencana itu. Disepakati Willy menjadi penggerak utama alias ketua panitia. Dalam perjalanan, ternyata Hudan sangat sibuk dan sulit mengatur waktu untuk terlibat. Akhirnya, mereka tinggal bertiga — Willy, MI (sapaan untuk Mustafa Ismail), Iwank (sapaan untuk Iwan Kurniawan). Belakangan, menjelang acara, Pilo Poly ikut bergabung untuk membantu.

Sejumlah seniman lokal Bengkulu pun dilibatkan. Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah (pada 2018 masih PLT) bersama jajarannya di Pemerintah Provinsi Bengkulu mendukung maksimal. Dukungan lain datang dari DJarum Foundation di Jakarta dan Bank Bengkulu di Bengkulu. Terakhir, Bupati Kepahiyang Hidayatullah Sjahid bersama jajarannya pun tak kalah bersemangat untuk menyokong acara ini dengan menjadi tuan rumah penutupan FSB.

Jadilah Festival Sastra Bengkulu pertama pada 13-15 Juli 2019. Lebih 100 sastrawan Indonesia dan luar negeri ikut berpartisipasi, terutama mengirim karya untuk buku “Jejak Cinta di Bumi Raflesia”. Temanya: Soekarno, Cinta dan Sastra”. Sejumlah tokoh penting dalam sastra Indonesia hadir, termasuk Sutardji Calzoum Bachri yang digelari Presiden Penyair Indonesia. Sang “Presiden” ikut mendampingi Gubernur membuka acara, membaca puisi di malam pembukaan, dan menjadi pembicara seminar esoknya.

Banyak orang memberi apreisasi. Ini adalah festival sastra pertama yang terbesar di Bengkulu. Tak hanya kepada Willy Ana dan tim panitia, tapi kepada Gubernur, Pemprov, Bupati Kepahiyang, dan para sponsor. Acara itu sukses, semarak, dan semua tampak berbahagia. Willy pun, meskipun “berdarah-darah” mempersiapkan itu — harus pontang-panting mengurus segala sesuatunya — tampak berseri-seri sekaligus terharu.

Tak banyak yang tahu bagaimana ia dan tim penggagas/penggerak inti (Willy, MI dan Iwank), harus patungan untuk ikut menutupi berbagai kekurangan pembiayaan. Mulai dari memakai dana pribadi hingga meminjam ke sana-sini. Masalahnya, tim inti hanya dapat satu sponsor dari Jakarta, yakni Djarum Foundation. Sementara dana dari sponsor di Bengkulu dipegang sepenuhnya oleh tim panitia Bengkulu. Tim Bengkulu FSB 2018, antara lain, Andika Eri Putra, Jayu Marsuis, Nadi Hariansyah dan Edi Ahmad.

Padahal, banyak pengeluaran harus ditangani Willy, mulai dari honor pembicara hingga tiket para pengisi acara pulang-pergi. “Tiket pulang Bapak Sutardji Calzoum Bachri akhirnya ditalangi Pak Ahmadun Yosi Herfanda bersama tiketnya sendiri. Pengembalian dana pembelian tiket itu kami cicil dengan dana pribadi ke Pak Ahmadun,” ujar Willy, penulis buku kumpulan puisi “Tabot Aku Bengkulu” (2016) dan “Petuah Kampung” (2017).

Adapun Pemerintah Provinsi Bengkulu mendukung dengan menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan, seperti gedung, makan malam pembukaan dan jamuan, juga bus untuk transportasi. “Kami paham karena acara ini memang tidak masuk dalam agenda event Pemprov Bengkulu dan tidak dianggarkan dalam APBD,” kata Willy. “Kami pun sangat berterima kasih kepada Bapak Gubernur dan jajarannnya telah membantu dengan sangat maksimal.”

Willy dan teman-teman tidak kapok. Meskpun selesai acara, mereka harus pulang ke Jakarta dengan bus karena tidak lagi punya ongkos. “Saya bersama Bang MI dan Pilo Poly naik bus dari Bengkulu ke Jakarta,” ujar Willy. Itu pun tiketnya disumbangkan oleh seorang sahabat mereka yang terharu dan trenyuh melihat kerja keras itu. “Waktu itu kami beanr-benar sudah tongpes,” lanjut mahasiswa jurusan manajemen sebuah kampus di Jabodetabek ini.

Willy menyebut Festival Sastra Bengkulu digerakkan dengan semangat, bukan uang. Maka itu, ia dan teman-teman tak pernah surut.

Pada Festival Sastra Bengkulu 2019, Willy bertekat akan lebih baik dari sisi penganggaran. “Insya Allah pada Festival Sastra Bengkulu 2019 lebih baik dari sisi pendanaan,” ujar Willy. Ia sudah mendapat lampu hijau dari sebuah lembaga negara setingkat kementerian yang akan mendukung salah satu kegiatan FSB-BWF. Namun, ia masih merahasiakan lembaga itu. “Nanti saja.”

Ia pun berharap Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan jajarannya kembali mendukung dan memfasilitasi acara ini. “Ini adalah ruang bagi Bengkulu untuk lebih memperkenalkan diri kepada publik sastra. Para peserta adalah penulis berbagai bidang, dan sebagian adalah wartawan. Begitu pulang dari Bengkulu sangat mungkin mereka menulis tentang apa yang ditemukan dan dirasakannya.” [SUMBER: TERASNUSA.COM]

Leave a Comment